- by Karina
- 10 August 2026
Loading
Banyak dari kita yang mungkin mengira bahwa pusat naskah kuno Islam di Indonesia hanya berpusat di Pulau Jawa atau beberapa daerah tertentu lainnya. Namun, sejarah peradaban Islam di Sumatera Utara rupanya menyimpan harta karun luar biasa yang sempat tersembunyi dari catatan publik. Untuk menyelami kekayaan ini, tidak ada tempat yang lebih tepat selain Museum Sejarah Al-Qur'an Sumatera Utara, yang sering juga dikenal luas sebagai Museum Al-Qur'an Medan. Berlokasi di kawasan Gedung Serba Guna Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Jalan Willem Iskandar, Kabupaten Deli Serdang, museum ini bukan sekadar ruang pameran benda mati, melainkan sebuah mesin waktu yang membawa kita melihat langsung bagaimana Islam tumbuh, menyebar, dan diabadikan oleh masyarakat Nusantara di masa lampau.
Kisah berdirinya museum ini berawal dari kegelisahan seorang sejarawan sekaligus Ketua Yayasan, Dr. Phil Ichwan Azhari. Pada tahun 2007, sebuah peta persebaran mushaf Al-Qur'an kuno di Indonesia diterbitkan, dan mirisnya, wilayah Sumatera Utara terlihat kosong tanpa catatan peninggalan manuskrip. Fakta ini tentu terasa janggal, mengingat daerah Barus di Sumatera Utara telah lama diakui secara historis sebagai salah satu titik awal masuknya ajaran Islam di Nusantara. Terdorong oleh rasa penasaran dan cinta terhadap sejarah, Dr. Ichwan mulai menyusuri berbagai daerah pesisir dan pelosok untuk mengumpulkan naskah-naskah kuno. Dedikasi panjang ini berbuah manis ketika Museum Sejarah Al-Qur'an Sumatera Utara akhirnya diresmikan pada 22 September 2019.
Daya tarik utama dan ruh dari museum ini terletak pada koleksi naskahnya yang menyimpan sekitar 70 manuskrip kuno, termasuk puluhan mushaf Al-Qur'an hasil tulisan tangan yang sangat berharga. Salah satu mushaf tertua yang dipamerkan diyakini disalin pada rentang tahun 1070 hingga 1074 Hijriah, yang berarti usianya sudah lebih dari tiga abad. Tidak seperti cetakan modern, manuskrip-manuskrip di sini dihiasi dengan iluminasi atau seni hiasan pinggir halaman yang mencerminkan kearifan lokal. Pengunjung dapat melihat keindahan motif khas Melayu Pantai Timur, Simalungun, hingga ornamen bunga matahari. Bahkan, ditemukan pula mushaf dengan sentuhan gaya Aceh dan Jawa di wilayah Sumatera Utara, yang menjadi bukti kuat adanya pertukaran budaya yang dinamis di masa lalu. Sisi humanis dari naskah-naskah ini juga terlihat pada bagian kolofon (catatan akhir naskah), yang berisi curahan hati sang penulis tentang bagaimana mereka bekerja tak kenal lelah siang dan malam demi menyempurnakan tulisan suci tersebut.
Selain peninggalan berupa teks, museum ini juga menghadirkan pendekatan sejarah yang holistik melalui bukti arkeologis dan botani Islami. Pengunjung tidak hanya disuguhkan dengan lebih dari 20 buku fikih kuno, tetapi juga koin dirham dari era Dinasti Umayyah dan Abbasiyah yang ditemukan di Tapanuli Tengah. Koin kuno yang memuat ukiran ayat Al-Qur'an ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa denyut peradaban Islam telah menyentuh pesisir Sumatera sejak abad ke-7. Di samping itu, sebagai sarana edukasi yang interaktif, museum turut memamerkan berbagai jenis tumbuhan yang secara spesifik disebutkan di dalam Al-Qur'an, seperti bawang merah, bawang putih, labu, serta komoditas sejarah kebanggaan lokal yakni Kapur Barus.
Menyadari bahwa menjaga kertas peninggalan berusia ratusan tahun dari kerusakan adalah tantangan besar, museum ini melangkah maju melalui upaya konservasi modern berupa digitalisasi. Pengunjung dan peneliti kini tidak perlu lagi menyentuh lembaran naskah asli yang rapuh; mereka dapat mengamati keindahan detail manuskrip melalui katalog digital atau cukup dengan memindai kode QR. Pada akhirnya, keberadaan Museum Sejarah Al-Qur'an Sumatera Utara hadir sebagai penegas bahwa jejak peradaban dan literasi Islam di Nusantara sangatlah kaya. Bagi Anda para pecinta sejarah, museum ini adalah destinasi wajib yang akan membuka wawasan tentang betapa hebatnya warisan intelektual dan seni para pendahulu bangsa kita.
0 Comments:
Leave a Reply