- by Karina
- 19 August 2026
Loading
Jika kita membayangkan Barus hari ini, mungkin yang terlintas adalah kota kecamatan kecil di Kabupaten Tapanuli Tengah. Namun pada abad ke-11 Masehi, Barus adalah salah satu pelabuhan internasional paling sibuk di dunia jauh sebelum Selat Malaka didominasi pelabuhan-pelabuhan besar di era-era berikutnya.
Di Desa Lobu Tua, para peneliti menemukan sebuah artefak monumental berupa batu prasasti berbentuk tiang segi enam berangka tahun 1088 Masehi. Hal paling menarik dan mencengangkan dari prasasti ini adalah bahasa dan aksara yang digunakan bukan bahasa lokal, melainkan bahasa Tamil dari India Selatan.
Mengapa aksara Tamil bisa terpahat di tanah Sumatera? Prasasti ini ternyata berfungsi semacam piagam atau piagam hukum bagi sebuah serikat dagang multinasional asal India Selatan bernama Ainnurruvar (atau dikenal sebagai Perkumpulan 500 dari Seribu Arah). Dalam teks tersebut, diatur berbagai regulasi perniagaan, perlindungan hak-hak saudagar, sistem pengumpulan pajak, hingga kepastian hukum bagi komoditas yang diperjualbelikan.
Kapur barus (camphor) dan kemenyan (benzoin) dari hutan-hutan Barus saat itu menjadi komoditas mewah yang dicari oleh para pedagang dari Tiongkok, Timur Tengah, hingga Eropa. Prasasti Lobu Tua menegaskan bahwa Barus pada masa itu adalah kawasan otonom yang sangat kosmopolitan, tempat bertemunya berbagai bangsa, bahasa, dan budaya dalam satu simpul jalur rempah dunia.
0 Comments:
Leave a Reply