- by Karina
- 19 August 2026
Loading
Bergeser jauh ke pedalaman selatan, tepatnya di kawasan dataran tinggi Padang Lawas yang dikelilingi oleh belasan kompleks candi Buddha Tantrayana (dikenal sebagai biaro), terdapat satu temuan epigrafis yang membuktikan tingginya tingkat peradaban sains dan teknologi lokal: Prasasti Gunung Tua.
Ditemukan pertama kali pada tahun 1820 di kompleks Biaro Bahal dan berangka tahun 1024 Masehi, prasasti ini ditulis menggunakan aksara Sumatera Kuno dengan perpaduan bahasa Melayu Kuno dan Jawa Kuno. Di balik bahasa birokratis keagamaan pada zamannya, tersimpan sebuah informasi sosial-ekonomi yang sangat luar biasa.
Teks prasasti tersebut mencatat tentang pembuatan sebuah arca suci bernama Bodhisattva Avalokitesvara. Yang membanggakan, proses pembuatan arca suci tersebut dikerjakan oleh seorang ahli tempa besi terkemuka yang dalam istilah lokal disebut sebagai pande bosi (pandai besi), yang diberi nama Surya.
Penemuan ini mematahkan pandangan keliru bahwa masyarakat kuno di pedalaman Nusantara hanya bergantung pada hasil alam secara pasif. Gelar dan peran khusus bagi seorang pande bosi menunjukkan bahwa pada abad ke-11, masyarakat Kerajaan Panai di Padang Lawas telah menguasai teknologi peleburan bijih besi, metalurgi tingkat tinggi, serta seni rupa pahat logam yang rumit. Mereka memiliki spesialisasi profesi yang matang, membuktikan bahwa peradaban di pedalaman tidak kalah canggih dari wilayah pesisir.
0 Comments:
Leave a Reply