19 August 2026

Pustaha Laklak

Ensiklopedia 'Sakti' dari Kulit Kayu Warisan Leluhur Batak


Jika kita membayangkan sebuah buku, yang terlintas pasti lembaran kertas putih yang dijilid rapi. Namun, tahukah kamu bahwa jauh sebelum kertas dan mesin cetak modern masuk ke Nusantara, masyarakat Batak telah memiliki peradaban literasi dan tradisi menulis yang sangat maju?

Mari berkenalan dengan Pustaha Laklak, mahakarya literatur kuno dari Sumatera Utara yang membuktikan bahwa leluhur kita bukan sekadar masyarakat lisan, melainkan ilmuwan dan cendekiawan pada masanya.

Pustaha Laklak tidak terbuat dari kertas biasa atau daun lontar, melainkan dari kulit kayu pohon Alim (Aquilaria). Proses pembuatannya membutuhkan keahlian khusus. Kulit kayu pohon Alim dikelupas, direbus, lalu dipukul-pukul hingga pipih dan halus.

Uniknya, buku ini tidak dijilid dari samping seperti buku modern, melainkan dilipat secara memanjang seperti alat musik akordeon (concertina). Format lipatan ini membuat Pustaha Laklak sangat praktis untuk dibawa ke mana-mana oleh para cendekiawan masa lalu. Untuk tintanya? Mereka menggunakan bahan-bahan organik yang diramu dari getah kayu, campuran arang, dan perasan dedaunan yang warnanya bisa bertahan hingga ratusan tahun.

Banyak yang mengira Pustaha Laklak hanya berisi mantra sihir atau hal-hal mistis murni. Faktanya, kitab ini adalah ensiklopedia ilmu pengetahuan kuno. Pustaha Laklak ditulis menggunakan aksara tradisional yang disebut Surat Batak, dan isinya terbagi menjadi tiga kategori ilmu utama:

Ilmu Kehidupan (Poda): Berisi aturan adat, hukum, petuah, dan tata cara menjaga keharmonisan bermasyarakat.

Ilmu Pengobatan (Tambar): Catatan medis masa lalu! Di dalamnya terdapat resep ramuan herbal, cara mendiagnosis penyakit, hingga teknik penyembuhan menggunakan tanaman endemik Sumatera.

Ilmu Astronomi (Porhalaan): Sistem kalender dan pergerakan rasi bintang. Nenek moyang kita sudah bisa membaca siklus cuaca, menentukan waktu terbaik untuk bercocok tanam, hingga menghitung hari baik untuk menggelar upacara adat hanya dengan melihat rasi bintang.

Tidak semua orang pada masa itu bisa menulis Pustaha Laklak. Kitab ini ditulis secara eksklusif oleh seorang Datu (pemimpin spiritual, tabib, sekaligus intelektual masyarakat Batak).

Seorang Datu harus menempuh pendidikan yang sangat panjang untuk menguasai tata bahasa, ilmu pengobatan, dan astronomi sebelum ia diizinkan menulis pustahanya sendiri. Menulis Pustaha adalah bentuk dedikasi seorang guru untuk mewariskan ilmu pengetahuannya kepada generasi penerus.

author

Karina Wanda, S.Pd., M.Pd.

Dosen PGSD Konsentrasi IPS di FKIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan Mahasiswa Program Doktoral Universitas Negeri Yogyakarta

0 Comments:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

you may also like